Anak Malang Ditengah Malam

kerjasama


Hasil gambar untuk anak malangpersis kemarin malam.
seperti biasa. menggunakan motor v-ixion yang sudah di modivikasi khas anak-anak motor terkhusus YPC (Yamaha V-ixion Club) besar dan tinggi motor itu. aku saja yang tinggi hampir 165Cm masih terjinjit-jinjit mengenakan motor itu. aku menjemput salah satu temanku pulang kerja. bukan lagi malam. tapi memang sudah sangat malam. kurang lebih waktu itu sekitar jam 1 malam.
temenku yang satu ini adalah seorang cewek. ups dia cuma temen bukan lebih atau apalah itu. tapi terserah kalian saja menafsirkanya hehe.
cantik, bersikap dewasa dan yang aku salut dia dia memiliki semangat yang tinggi tunuk bekerja.
ah sudah-sudah. dia hanya temenku. tapi kalau pun dia mau jadi ............. juga tak apa hehe
sudah ya, kali ini aku bukan ingin bercerita tentang temanku yang satu ini. tetapi aku ingin bercerita tentang perjalananku saat aku menjemput temanku yang satu ini.
oke. sudah aku jelaskan. motor v-ixion yang aku pakai malam itu.
malam itu aku bertemu seorang anak yang membutuhkan pertolongan di tengah perjalanan.
anak itu tampak benar'' butuh bantuan. dengan rasa kasihan. aku berhenti kurang lebih 2 meter melewatinya. sontak aku menanyakan. mau kemana malam-malam begini jalan sendiian?
"hemm- hemm"
itulah yang pertama kali ku dengar dari mulutnya.
awalnya aku kira dia tak bisa bicara. karena memang sejak awal aku sudah melihat banyak kekurangan pada anak ini. kakinya bengkok. susah untuk berjalan, bukan sebelah kanan tau kiri yang bengkok. tetapi kedua belah kakinya memang agak kurang sempurna, (Maaf)
"ayo Saya antar kerumah"
sepontan aku berubah menjadi baik. yah kurang lebih seperti pahlawan. tetapi sepertinya aku kemalaman hehe
anak itupun tanpa pikir panjang langsung mencoba naik motor. sepertinya agak kesusahan memang dengan keadaan kaki yang kurang sempurna, sehingga aku agak sedikit membantunya untuk naik keatas motor.
"sudah siap" tanyaku saat ia sudah duduk persis dibelakangku.
"bang-bang sendal kamek jatuh" ucapnya persis dibelakangku. alhasil dia turun dari motor dan kemudian mengambil sendalnya yang terjatuh. sendal jepit warna hitam waktu itu.
setelah itu, kamipun langsung berangkat.
rumahmu dimana? di depan. berhenti aja didepan bang.
didepan mana? terus aja bang. terus aja.
tak berjarak jauh kami berjalan. ternyata untuk yang keduakalinya kembali terjatuh sendal jepit yang ia pakai.
kali ini aku sendiri yang mengambilkan sendalnya karena melihat agak cukup repot kalau dia yang turun dari motor. sementar waktu memang sudah larut malam.
aku mencoba. memakaikan sendalnya. ternyata kakinya memang benar'' cacat (maaf) untuk menjepit sendal jepit saja ia cukup kerepotan. sontak hati terhenyut. melihat keadaannya yang benar-benar memprihatinkan itu. hampir saja aku menitikan air mata melihat keadaanya.
lanjut kami berjalan. dimana rumahmu? tanyaku. di depan bang. kamu umur berapa? 15 tahun bang. agak kaku memang aku bercakap-cakap dengan anak ini. tapi ya sudahlah mungkin dia memang masih gerogi karena baru mengenalku.
aku kembali bertanya. dari mana malam-malam gini jalan sendirian. jauh lagi?
dari tempat bapak bang. tadinya mau minta uang buat beli beras 50 ribu. tapi bapak enggak mau kasi bang.
masyaAllah dalam hati aku mengucapkanya.
dadaku semakin sesak. mataku mungkin akan terlihat cengeng kalau saja aku berada di tempat yang cukup terang. aku benar'' ingin menangis.
tak tahan aku mengalihkan pembicaraan. ibumu dimana? ada bang, di rumah sama adek
berapa barsaudara?
2 bersaudara bang
oh. ibu kerja apa?
enggak kerja bang. udah enggak mampu kerja lagi karena sakit-sakitan.
rumahmu dimana? aku bener-bener berusaha tak lagi-lagi bertanya tentang keluarganya, sebab aku akan benar-benar mengangis kalau aku lanjutkan.
di depan bang.
di depan mana. ini udah hampi sampai tugu. sementara yang ku tau daerah disitu adalah daerah perkantoran dan taman.
sudah bang berhenti di sini aja. udah deket rumahku.
enggak-enggak abang mau anter kamu sampai rumah.
udah bang di sini aja.
beneran disini?
ia bang disini aja udah deket kok
dengan terpakasa aku memberhentikan motor dan kemudian mencoba merogoh uang dalam dompet. tak banyak jumlahnya. yah paling tidak cukup untuk dia dan keluarganya makan sehairan.
ini ada uang buat adekmu.
dia tampak kebingungan saat aku beri uang itu. rumah kamu dimana?
abang mau jemput teman ke arah tanjung pura. kalau memang udah deket abang anterin aja sekalian sampai depan rumah. mencoba kembali membujuk. waktu itu. kami berdua persis didepan auditorium Universitas Tanjung Pura.
rumah saya di tanjung raya bang.
masyaAllah. jauh bener. ya udah ayok naik lagi. kanapa kamu bilang rumah kamu udah dekat?
aku takut bang dengan abang.
loh kenapa takut? santai aja sama abang. abang mah cuma motornya aja yang seram. orangnya mah baik kaya spiderman hehe.
ya udah biar abang anter kamu sampai Jalan Imam bonjol dulu. kemudian abang jemput temen, kamu disini aja. jangan kemana'' pesanku.
tetapi ternyata dia memintaku mengantarkannya sampai di simpang tanjung pura.
aku benar-bingung harus berhenti dimana.
kebeulan deket simpang tanjung pura arah ke jembatan ada sebuah halte jadi aku berhenti disana. dan kau disini aja. jangan kemana'' nanti abang anter kamu sampai rumah setelah abang jemput temen abang. awas kalau kemana-mana.
ia bang. simpel jawabnya
ya udah.
aku langsung cus menjemput temanku yang memang sudah menunggu.
sepulang menjemput temanku. aku kembali ke halte itu. tenyata anak itu sudah tak ada disana. aku bertanya pada seroang peremuan berambut khas tomboi yang memang sudah sedari aku mengantar anak itu disitu.
kak. anak yang disini tadi dimana?
entah. jawabnya jutek.
waduh, kemana ya kak
entah. kembali jawaban jutek dengan muka yang seperti jeruk nipis (asem)
waduh, kemana ya tuh anak.
ya mana saya tau bang. dengan nada benar-benar tak enak aku dengar.
tau gak. rasanya pingin gua ludahin nih cewe. terus bilang bangsat luhhh.
terus gua injek'' kepalanya.
mendengar jawaban tuh cewek aku rada emosi sama tuh anak yang aku anterin tadi. bangsat tuh anak. disuruh jangan kemana-mana malah hilang. padahal pingin banget peluk dia.
oh ia. aku sempat bertanya. kamu sekolah?
enggak bang cuma ngaji aja.
sudah yah sampai sini aja ceritanya. capek tau ngetik sebanyak ini.
harapanku semoga anak itu jadi anak yang berguna dan jadi anak yang sholeh. amin.
kerjasama
0 Komentar untuk "Anak Malang Ditengah Malam"

Back To Top