haha... aku ingin bernostalgia sejenak. mengingat masa lalu terkadang memang menggelikan. membuat kita tertawa-tertawa sendiri seperti orang gila. bahkan tanpa sebab apapun kita bisa saja tertawa tanpa arti di tengah-tengah keramayan. dan itu hanya kita sendiri yang mengerti.
baru saja. aku tertawa kegirangan mengingat masalalu yang menggelikan. ya. akan aku ceritakan sesegera mungkin pada kalian.
oke. dulu aku pernah manjadi santri. disalah satu pondok pesantren di Kabupaten Sekadau. pondok penantren itu cukup ternkenal di sana. sudah tak asing mungkin bagi kalian yang berasal dai kota Sekadau Kalimantan Barat. aku tak seperti kebanyak santri lainya. nakal, perokok, dan pemalas. jika dibandingkan dengan santri yang lain. seprtinya bisa dikatakan hitam dan putih. aku hitam dan sementara yang lain putih. maksudnya adalah beda pergaulan.
baik. tak perlu berpanjang lebar aku memperkenalkan diri. di pondok pesantren itu. aku memiliki beberapa teman yang cukup akrab. Adalah Rojak. tentara yang sudah ditugaskan sekarang. entah dimana dia ditugaskan. akupun tak penah bertanya. sekarang kami hanya berkomunikasi melalui media sosial. rojak biasa kami panggil dengan panggilan yang cukup keren. ya. Bang Jek. up bukan ojek bro. hehe.
Dedi. ia juga salah satu teman yang cukup nakal di pondok pesantren itu. badanya tak kalah dengan sosok tentara yang baru saja ku ceritakan. besar tinggi. sementara diantara kami bertiga. akulah anak yang memiliki postur badan paling cilik waktu itu. tapi tidak dengan nyaliku. nyaliku cukup besar hehe.
oke. aku punya pacar. namanya adalah Purwanti. bang jek juga punya pacar adalah Manisem yang sekarang sudah bahagia dengan suaminya. entah apalah kabar Manisem sekarang. tak penah lagi dia muncul ke permukaan media sosial setelah menikah. salam kangen dariku manisem. Dedi juga tak mau kalah saing. dia juga punya pacar. Namanya Sri Wahyuni.
selain menjadi anak yang nakal aku juga kerap kali berubah menjadi baik. malam itu. aku sedang membantu salah satu ustad membuat Rak Sepatu. ya ustadku itu baru saja mengembangkan bisnisnya dengan berjualan berbagai merk spatu. akupun berinisiatif membantu merakit rak-rak yang nantinya akan digunakan untuk meletakan sepatu-sepatu baru itu.
Dedi yang tadi ku ceritakan ternyata membawa sebuah telepon genggam ke pondok pesantren. padahal di pondok pesantren dilarang keras membawa telepon..
ah sudahlah pikirku. usut punya usut manisem juga membawa.
baru saja. aku tertawa kegirangan mengingat masalalu yang menggelikan. ya. akan aku ceritakan sesegera mungkin pada kalian.
oke. dulu aku pernah manjadi santri. disalah satu pondok pesantren di Kabupaten Sekadau. pondok penantren itu cukup ternkenal di sana. sudah tak asing mungkin bagi kalian yang berasal dai kota Sekadau Kalimantan Barat. aku tak seperti kebanyak santri lainya. nakal, perokok, dan pemalas. jika dibandingkan dengan santri yang lain. seprtinya bisa dikatakan hitam dan putih. aku hitam dan sementara yang lain putih. maksudnya adalah beda pergaulan.
baik. tak perlu berpanjang lebar aku memperkenalkan diri. di pondok pesantren itu. aku memiliki beberapa teman yang cukup akrab. Adalah Rojak. tentara yang sudah ditugaskan sekarang. entah dimana dia ditugaskan. akupun tak penah bertanya. sekarang kami hanya berkomunikasi melalui media sosial. rojak biasa kami panggil dengan panggilan yang cukup keren. ya. Bang Jek. up bukan ojek bro. hehe.
Dedi. ia juga salah satu teman yang cukup nakal di pondok pesantren itu. badanya tak kalah dengan sosok tentara yang baru saja ku ceritakan. besar tinggi. sementara diantara kami bertiga. akulah anak yang memiliki postur badan paling cilik waktu itu. tapi tidak dengan nyaliku. nyaliku cukup besar hehe.
oke. aku punya pacar. namanya adalah Purwanti. bang jek juga punya pacar adalah Manisem yang sekarang sudah bahagia dengan suaminya. entah apalah kabar Manisem sekarang. tak penah lagi dia muncul ke permukaan media sosial setelah menikah. salam kangen dariku manisem. Dedi juga tak mau kalah saing. dia juga punya pacar. Namanya Sri Wahyuni.
selain menjadi anak yang nakal aku juga kerap kali berubah menjadi baik. malam itu. aku sedang membantu salah satu ustad membuat Rak Sepatu. ya ustadku itu baru saja mengembangkan bisnisnya dengan berjualan berbagai merk spatu. akupun berinisiatif membantu merakit rak-rak yang nantinya akan digunakan untuk meletakan sepatu-sepatu baru itu.
Dedi yang tadi ku ceritakan ternyata membawa sebuah telepon genggam ke pondok pesantren. padahal di pondok pesantren dilarang keras membawa telepon..
ah sudahlah pikirku. usut punya usut manisem juga membawa.
0 Komentar untuk "Sial. Ketahuan"