Labirin, Cinta yang Sulit

kerjasama


Nurrul Hikmah, sebuah pondok pesntren kecil yang letaknya persis  di bibir sungai Kapuas Belitang itu menjadi pesantren pertama yang mengajarkan ku ilmu agama. Bapak mengantarkanku mengunakan sebuah sepeda motor tua yang sudah cukup susah untuk dihidupkan bahkan seringkali mogok ketika di tengah perjalanan bunyinya juga cempreng seperti kaleng rombeng. Tapi motor tua itu adalah motor satu-satunya yang bapak punya.
Persis pukul 4 sore aku dan bapak sampai di pondok pesantren. Sambil mengamati kanan kiri depan dan belakan aku bertanya pada bapak. Mana pondok pesntrennya? Bapak hanya tersenyum lalu berjalan menaiki anak tangga salah satu rumah di kampung Belitang itu. Assalamualaikum.. sambil mengetuk puntu bapak mengucap salam. Waalaikumsalamm…. Jawab seorang pria dari dalam rumah itu. dibukalah pintu rumah itu. Alhamdulillah sampai juga ya pak. Bagaimana perjalanannya? Panjang ceritanya stad, motor tua saya sempat ngambek tadi di tengah perjalanan. Wahh untung masih mau nyala ya pak hehe.. 
Pria itu mengunakan sarung berwarna hijau dan menggunakan peci bulat berwarna putih. Wajahnya tampan dan gagah pula. Mari masuk pak, ayo Opik masuk juga udah istri saya sudah menyiapkan makanan dan minuman di dalam. Lalu pria tampan itu mempersilahkan kami duduk di hamparan karpet yang sudah disediakan. setelah beberapa lama bercengkrama aku baru tau ternyata pria tampan itu adalah seorang ustad yang akan mengajariku ilmu agama lebih dalam nantinya. Bapak segera pamit pulang kerena matahari juga sudah semakin menutup matanya. Bapakpun pulang kerumah dan meninggalkanku di pondok pesantren itu. Assalamualaikum.. bapak mengucapkan salam sembari menarik gas motor tua berbunyi cempreng itu. waalaikumsalam.. hati-hati pak salam buat istri di rumah, pria tampan itu berpesan pada bapak. 
Pria tampan itu kemudian mengajakku masuk kembali kerumah, sini Pik, Nah ini kamarmu dan teman-temanmu nanti, nanti malam bakda isya ada 2 orang teman barumu yang datang. Ayo bawa masuk tas dan barang-barangmu yang lain. Akupun menganggukan kepala dan langsung menyincing tas dan kardus yang kubawa dari rumah. Opik udah mandi? Aku hanya mengangukkan kepala. Ya sudah kamu istirahat aja dulu, nanti siap-siap ke Musholah ya. Sekali lagi aku menganggukan kepala. Kemudian pria tampan itu keluar dari kamar. 
Adzan magrib berkumandang dengan merduya, penasaran siapa yang mengumandangkan adzan, aku yang memang sudah mengunakan celana panjang dan kaso berwarna biru segera mengambil peci dan pergi ke Musholah. Sampailah aku di Musholah, ternyata yang adzan adalah pria tampan yang mulai sekarang akan segera ku pangil dengan pangilan ustad. Aku segera mengambil air wudhu di sungai yang kurang lebih hanya 4 meter dari Musholah. 
Selain aku, berbondong-bondong pula masyarakat sekitar menuju Musholah untuk berjamaah sholat magrib. Iqomah tak lama berkumandang. Salah seorang anak kecil kurang lebih berusia 10 tahun yang meneriakan ikomah sore itu. kamipun berjamaah melaksanakan shalat margib. Setelah sholat magrib, jamaah pun pulang ke rumah masing-masih begitu pula dengan ustad tampan itu. Opik enggak pulang dulu? Tanya ustad tampan itu. Aku hanya engelengkan, Nati saja tad sekalian sholat isya. Oh ya sudah, nanti kalau udah waktunya adzan isya langsung di adzani aja ya pik. Aku pun menganggukan kepala. Ya sudah saya duluan ya sambil menuruni anak tangga ustad tampan itupun pulang ke rumah.

kerjasama
Tag : cinta
2 Komentar untuk "Labirin, Cinta yang Sulit"

Hihi..
Pingin nerusin jejak kamu.
Komentarnya dong tentang tulisanku di atas

Back To Top